bahagia

Orang sakit menyangka, bahagia itu terletak pada kesehatan.

Orang miskin menyangka, bahagia itu terletak pada harta kekayaan.

Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan.

Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran.

Dan banyak sangkaan-sangka­an lain mengenai di mana letak KEBAHAGIAAN

Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?…

Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung…

Ada yang mencari di pantai…

Ada yang mencari ditempat yang sunyi…

Ada yang mencari ditempat yang ramai…

Kesenangan dan kebahagiaan sebenarnya ada pada diri sendiri, tergantung pada kesehatan jiwa. Jiwa adalah kekayaan yang termahal. Kesucian jiwalah yang menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin.

Indikasi jiwa yang sehat akan tampak melalui mata, yang memancarkan cahaya, timbul dari hati yang bersih, tidak mengandung dendam.

Bagaimana membahagiakan jiwa ?

Islam telah merumuskannya.

Pertama,

Memperbanyak amal shalih.

Janji Allah swt. “Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya  akan kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.  An-Nahl: 97).

Imam Qurthubi mengatakan bahwa kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat diatas, tersimpul dalam keadaan ketentraman hati dan jiwa (rahatul qalb wa tuma ninatun nafs), rasa cukup atas pemberian Allah (Qana ah birizqillah),merasakan kelezatan ibadah (idraku lazzatil ibadah), kesenangan hati (saadatul qalb), dan lapang dada (insyirahu shadr).

Kedua,

Menyadari dan menanamkan hakikat kehidupan.

Diantara hakikat hidup menyebutkan bahwa kesusahan itu terletak antara dua kesenangan, dan kesenanganpun terletak diantara dua kesusahan. Atau dengan kata lain, dalam kesenangan tersimpan kesusahan, dan dalam kesusahan ada unsur kesenangan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Dengan begitu hati kita akan terus merasakan lapang. Ini salah satu kunci istimewa kaum beriman yang menjauhkan jiwa kita dari kekhawatiran yang berlebihan.

Ingatlah pada sabda Rasul saw, “Keadaan kaum beriman itu menakjubkan , semua masalah baginya adalah kebaikan belaka. Bila diberi kebahagiaan dia bersyukur. Itu adalah baik baginya Dan bila ditimpa kesusahan ia bersabar. Dan itupun baik baginya. Tidak ada yang memiliki keadaan seperti itu kecuali seorang mu’min”.

Ketiga,

Memperbanyak dzikir kepada Allah.

Dzikir adalah sebab paling besar yang pasti mampu melapangkan dan menenangkan hati. Dzikir  yang paling baik adalah membaca Al-Qur’an, memahami dan mendalami kandungannya. “Yaa ayunannasu qad jaatkum mau izatun mirrabikum wa syifaun lima fi shudur”

Keempat,

Bersandarlah pada Allah (at-Tawakkul).

Tumbuhkan percaya dan yakin pada kemurahan Allah, niscaya akan hilanglah bayangan negatif, dugaan dan prasangka, sehingga mengistirahatkan anggota tubuh kita. Yakinlah janji Allah swt, “Wa man yatawakkal alallah fahuwa hasbuhu (QS. Ath-Htalaq:3). Artinya : akan dijamin semua apa yang menjadi obsesinya, baik masalah dunia maupun agamanya.

Kelima,

Bergaulah dengan orang-orang shalih dan baik.

Ketahuilah, pergaulan mampu membentuk tingkat kepercayaan dan mengarahkan keyakinan sesorang.

Bahkan pergaulan menjadikan syarat utama bagi pembentukan batin. Kebersihan jiwa akan terpelihara dengan teman yang juga baik jiwanya.

Imam Ghazali mengatakan, bila anda ingin memilih teman yang baik, perhatikan dalam lima hal:

Akalnya, kelurusan pekertinya, kebaikannya, tidak ambisi dunia, dan tidak dusta.

Kenam,

Jangan berlebihan dalam berangan-angan.

Terlalu berlebihan dalam angan-angan pasti mengurangi ingatan pada akhirat. Akibatnya jiwa menjadi lemah, kreatifitas tumpul, dan tubuh menjadi malas. Lalai terhadap akhirat berarti lupa menunaikan perintah Allah, dan miskin amal shalih.

Rosul berpesan, “Jadilah anda di dunia seperti orang asing dan seorang yang tengah mengembala”.

Baca Juga => Aku ingin hidup bahagia,, haruskah aku kaya dan banyak harta?..